Disuatu pagi yang cukup gelap,
karena mentari masih saja enggan menampakkan wujudnya. Seperti biasa ibu
menyiapkan makan pagi untuk anak-anaknya. Ranti adalah mahasiswi fakultas ekonomi
disalah satu Universitas swasta di Jakarta. Ranti bersyukur karena bisa
melanjutkan pendidikannya hingga ia kuliah, tak seperti kakaknya yang hanya
bisa sampai SMK saja kemudian bekerja di konveksi. Yah semua ini kakak lakukan
untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya. Ayahnya meninggal karena sakit jantung
dan semenjak itu ibu hanya mengandalkan
uang pensiun ayah untuk membiayai kuliah ranti.
Suatu ketika tiba-tiba ranti menengek untuk minta
di belikan sebuah hand phone yang canggih, namun ibu belum bisa membelikananya.
“Bu, aku minta dibelikan HP kaya temen-temen, hpnya canggih ngga kaya ini Hp
butut. “ kata Ranti. “ nak..nak, kamu itu harusnya bersyukur karena bisa
memiliki Hp walaupun seperti, banyak orang diluar sana yang lebih merasa
kekurangan disbanding kita., kamu bisa memiliki melanjutkan pendidikan sampai
kuliah. Lihat orang-orang diluar sana banyak yang ingin merasakan senangnya
menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun mereka tak sempat
merasakannya”,terang Ibu. Kemudian ranti marah-marah kepada ibunya karena
merasa dirinya tak pernah disayangi, ia ingin seperti teman-temannya yang
merasa berkecukupan.
Semenjak
saat itu tingkah ranti semakin berubah, sepertinya ranti masih marah dengan
kata-kata Ibu. Ranti mendiamkan ibunya, bahkan setiap selesai kuliah ia
langsung mengurung diri dikamar. Ibunya semakin khawatir atas tingkah Ranti,
semenjak itu ibupun mengusahakan untuk berhutang demi untuk membeli sebuah
handphone untuk Ranti. Ibu berhutang kepada seorang rentenir demi anak yang
disayanginya Ibu rela melakukan apapun untuk Ranti. Dan akhirnya Ibu membelikan
Hp yang diinginkan oleh Ranti.
Hingga
suatu ketika Ibu tak mampu membayar hutangnya, ibu terlalu banyak fikiran,
sampai ibu jatuh sakit.mungkin karena terlalu banyak hal yang difikirkan dalam
hati ibu. Ibu akan melakukan apapun yang membuat Ranti bahagia. Karena ibu
sakitnya semakin parah, kakakpun membawanya kerumah sakit. Setelah itu ternyata
ternyata sang dokter mengatakan bahwa ibunya terlalu banyak memikirkan banyak
hal hal sehingga ada gangguan pada syaraf kepalanya dan dokter mengatakan jika
umur ibu tak lama lagi.
Kakak
pun menceritakan semuanya kepada Ranti, semenjak saat itu Ranti sangat
menyesal, menangis, dan tak mampu membendung air matanya. Sampai belum lama,
ternyata keadaan ibu semakin memburuk. Dokterpun mengusahakan untuk
menyelamatkannya, namun ternyata nyawanya tak dapat tertolong. Hingga saat itu
Ranti menyesal karena belum sempat meminta maaf kepada ibunya.
Hari-hari
dilalui Ranti dengan penuh penyesalan, hingga kepergian Ibunya sudah 40 hari.
Kakaknya pun selalu menenangkan Ranti. “ Sudahlah Ran, Ibu sudah tenang disana”
kata Kakak. Rantipun selalu berusaha untuk memperbaiki sikapnya, ia selalu
berusaha untuk mendapatkan IPK terbaik untuk orangtuanya. Hingga saat hari yang
ditunggu Ranti pun dating, ia diwisuda dan harapannya dikabulkan ia mendapatkan
IPK cumlaude dan mendapatkan beasiswa S2 di Luar Negeri. Kakaknya pun ikut
senang karena sang adik mampu membuktikan bahwa dirinya bisa berubah menjadi
lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar