Selasa, 07 Juni 2016

Masihkah Ada Maaf Untukku



            Disuatu pagi yang cukup gelap, karena mentari masih saja enggan menampakkan wujudnya. Seperti biasa ibu menyiapkan makan pagi untuk anak-anaknya. Ranti adalah mahasiswi fakultas ekonomi disalah satu Universitas swasta di Jakarta. Ranti bersyukur karena bisa melanjutkan pendidikannya hingga ia kuliah, tak seperti kakaknya yang hanya bisa sampai SMK saja kemudian bekerja di konveksi. Yah semua ini kakak lakukan untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya. Ayahnya meninggal karena sakit jantung dan semenjak itu ibu hanya  mengandalkan uang pensiun ayah untuk membiayai kuliah ranti.
Suatu   ketika tiba-tiba ranti menengek untuk minta di belikan sebuah hand phone yang canggih, namun ibu belum bisa membelikananya. “Bu, aku minta dibelikan HP kaya temen-temen, hpnya canggih ngga kaya ini Hp butut. “ kata Ranti. “ nak..nak, kamu itu harusnya bersyukur karena bisa memiliki Hp walaupun seperti, banyak orang diluar sana yang lebih merasa kekurangan disbanding kita., kamu bisa memiliki melanjutkan pendidikan sampai kuliah. Lihat orang-orang diluar sana banyak yang ingin merasakan senangnya menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun mereka tak sempat merasakannya”,terang Ibu. Kemudian ranti marah-marah kepada ibunya karena merasa dirinya tak pernah disayangi, ia ingin seperti teman-temannya yang merasa berkecukupan.
Semenjak saat itu tingkah ranti semakin berubah, sepertinya ranti masih marah dengan kata-kata Ibu. Ranti mendiamkan ibunya, bahkan setiap selesai kuliah ia langsung mengurung diri dikamar. Ibunya semakin khawatir atas tingkah Ranti, semenjak itu ibupun mengusahakan untuk berhutang demi untuk membeli sebuah handphone untuk Ranti. Ibu berhutang kepada seorang rentenir demi anak yang disayanginya Ibu rela melakukan apapun untuk Ranti. Dan akhirnya Ibu membelikan Hp yang diinginkan oleh Ranti.
Hingga suatu ketika Ibu tak mampu membayar hutangnya, ibu terlalu banyak fikiran, sampai ibu jatuh sakit.mungkin karena terlalu banyak hal yang difikirkan dalam hati ibu. Ibu akan melakukan apapun yang membuat Ranti bahagia. Karena ibu sakitnya semakin parah, kakakpun membawanya kerumah sakit. Setelah itu ternyata ternyata sang dokter mengatakan bahwa ibunya terlalu banyak memikirkan banyak hal hal sehingga ada gangguan pada syaraf kepalanya dan dokter mengatakan jika umur ibu tak lama lagi.
Kakak pun menceritakan semuanya kepada Ranti, semenjak saat itu Ranti sangat menyesal, menangis, dan tak mampu membendung air matanya. Sampai belum lama, ternyata keadaan ibu semakin memburuk. Dokterpun mengusahakan untuk menyelamatkannya, namun ternyata nyawanya tak dapat tertolong. Hingga saat itu Ranti menyesal karena belum sempat meminta maaf kepada ibunya.
Hari-hari dilalui Ranti dengan penuh penyesalan, hingga kepergian Ibunya sudah 40 hari. Kakaknya pun selalu menenangkan Ranti. “ Sudahlah Ran, Ibu sudah tenang disana” kata Kakak. Rantipun selalu berusaha untuk memperbaiki sikapnya, ia selalu berusaha untuk mendapatkan IPK terbaik untuk orangtuanya. Hingga saat hari yang ditunggu Ranti pun dating, ia diwisuda dan harapannya dikabulkan ia mendapatkan IPK cumlaude dan mendapatkan beasiswa S2 di Luar Negeri. Kakaknya pun ikut senang karena sang adik mampu membuktikan bahwa dirinya bisa berubah menjadi lebih baik. 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar